Pengelolaan program magang di sebuah perusahaan sering kali masih dilakukan secara manual, mulai dari pencatatan kehadiran, pelaporan aktivitas harian, hingga penilaian akhir mahasiswa magang. Cara ini dinilai kurang efisien ketika jumlah peserta magang terus bertambah, sebab data menjadi mudah tercecer dan sulit dipantau secara langsung.
Permasalahan tersebut menjadi salah satu hal yang dipelajari Art Fazil, mahasiswa Program Studi Informatika Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), selama menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL) di PT Duta Solusi Informatika (PT DSI), Semarang. Selama magang berlangsung, ia terlibat langsung dalam tim pengembang untuk membangun sebuah sistem bernama InternaPro, yaitu aplikasi berbasis web yang dirancang untuk mengelola seluruh kebutuhan administrasi magang dalam satu sistem yang terpusat.
Satu Sistem untuk Banyak Kebutuhan
InternaPro dikembangkan agar mampu menangani berbagai kebutuhan operasional magang sekaligus, mulai dari presensi kehadiran, pencatatan logbook harian, pemberian dan pengumpulan tugas, pengajuan izin, hingga penilaian akhir kompetensi oleh supervisor. Seluruh proses tersebut terhubung dalam satu sistem yang sama, sehingga setiap pembaruan data, misalnya saat mahasiswa magang mengisi presensi atau menyelesaikan tugas, dapat langsung terlihat oleh supervisor maupun admin tanpa perlu pelaporan manual yang berulang.
Salah satu fitur yang menjadi perhatian khusus dalam pengembangannya adalah presensi kehadiran berbasis lokasi. Sistem ini mewajibkan mahasiswa magang berada dalam radius tertentu dari kantor agar dapat melakukan presensi, sehingga proses pencatatan kehadiran menjadi lebih akurat dan tidak dapat dimanipulasi secara sembarangan. Selain presensi, keamanan akun pengguna juga diperkuat melalui proses masuk dua langkah, di mana pengguna perlu memasukkan kata sandi yang kemudian diikuti dengan kode verifikasi tambahan, menyerupai sistem keamanan yang umum digunakan pada aplikasi perbankan digital.
Belajar Teknologi yang Belum Banyak Dipakai di Indonesia
Dalam proses pengembangannya, tim memilih menggunakan kombinasi teknologi backend Go dan frontend Svelte 5, dua perangkat pengembangan yang dipilih karena ringan dan responsif, namun masih tergolong baru dan belum banyak digunakan di kalangan pengembang Indonesia. Pilihan ini membawa konsekuensi tersendiri bagi Art Fazil di lapangan.
"Di awal, saya cukup percaya diri dengan pilihan teknologi yang digunakan. Namun seiring berjalannya proyek, saya menyadari bahwa antusiasme saja tidak cukup; keputusan teknologi harus dipertimbangkan secara matang, bukan hanya dari sisi kecanggihan, tetapi juga dari sisi ekosistem dan dukungan yang tersedia," ujarnya.
Minimnya forum diskusi dan referensi berbahasa Indonesia untuk kedua teknologi tersebut membuatnya lebih sering bergantung pada dokumentasi resmi berbahasa Inggris dan proses mencoba-coba secara mandiri. Meski terasa berat di awal, pengalaman ini justru melatih kemandirian dalam memecahkan masalah, sebuah kebiasaan yang menurutnya tidak selalu didapatkan dari bangku kuliah.

Git: Dari Sekadar Tahu Menjadi Benar-Benar Bisa
Di luar pengembangan fitur, salah satu perubahan paling terasa bagi Art Fazil justru datang dari hal yang tampak sederhana: penggunaan Git, yakni sistem yang digunakan untuk mencatat dan mengelola setiap perubahan kode secara terstruktur, terutama saat dikerjakan oleh banyak orang dalam waktu bersamaan.
Sebelum mengenal Git secara serius, banyak mahasiswa, termasuk Art Fazil sendiri, lebih akrab dengan cara kolaborasi kode yang sebenarnya cukup merepotkan: mengompres seluruh berkas proyek menjadi satu arsip (zip), lalu mengirimkannya lewat WhatsApp, tautan Google Drive, atau bahkan flashdisk yang dioper langsung dari satu laptop ke laptop lain. Padahal, solusi yang lebih praktis sebenarnya sudah lama tersedia dan banyak digunakan di industri, hanya belum banyak disentuh karena tampilan baris perintah (command line) yang terkesan rumit bagi pemula.
Begitu masuk ke lingkungan kerja PT DSI, ia dihadapkan pada alur kerja tim yang sesungguhnya, termasuk kebiasaan membuat cabang pekerjaan terpisah (branching) dan mengajukan permintaan penggabungan kode (pull request) sebelum perubahan tersebut disatukan ke proyek utama. Kebiasaan ini menuntutnya untuk benar-benar memahami fungsi Git sebagai alat kerja harian, bukan sekadar materi ujian.
"Sebelum magang, penggunaan Git sebatas commit dan push sederhana yang dipelajari di kelas. Di sini, saya dipaksa untuk benar-benar memahami Git bukan sebagai formalitas akademik, melainkan sebagai alat kerja sehari-hari," tuturnya.
Menurutnya, mempelajari perintah Git dan baris perintah pada umumnya tidak perlu dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan. Ia memandang proses tersebut lebih sebagai cara berkomunikasi dengan komputer secara lebih utuh dan luwes, sebagaimana sekadar berinteraksi dengan makhluk dengan bahasanya sendiri dan memahami bahasanya, bukan sekadar mengetikkan instruksi secara hafalan. Dengan cara pandang ini, komputer tidak lagi sekadar alat yang digunakan sesekali, tetapi menjadi semacam rekan kerja yang dapat benar-benar meringankan beban pekerjaan apabila dipahami dan dimanfaatkan dengan baik.
Perubahan ini berjalan beriringan dengan kemampuannya bekerja dalam tim. Berkoordinasi langsung dengan sesama pengembang, menyampaikan progres pekerjaan secara jelas, serta menerima dan menindaklanjuti masukan dari rekan kerja menjadi rutinitas baru yang menurutnya tidak banyak ia temui dalam tugas kelompok di kampus.
Bekal Menuju Dunia Kerja
Bagi Art Fazil, pengalaman magang di PT Duta Solusi Informatika memberi gambaran yang lebih utuh mengenai dunia kerja di industri perangkat lunak, yang ternyata tidak hanya soal menulis kode, tetapi juga soal disiplin waktu, komunikasi tim, dan kemampuan beradaptasi dengan teknologi baru. Pengalaman ini diharapkan menjadi bekal yang berarti baginya untuk menghadapi dunia kerja di bidang teknologi informasi yang terus berkembang ke depannya.

