1. Beranda
  2. Berita
  3. PKM
  4. Detail

Pelatihan Generative AI di PPTQ Riyadush Sholihin: Santri Belajar Memakai AI dengan Kritis, Jujur, dan Beradab

PKM 04 Nov 2026 10 views
Bintang Bradhiena Surya
Bintang Bradhiena Surya
Admin · 04 Nov 2026 · 10 views · PKM
Pelatihan Generative AI di PPTQ Riyadush Sholihin: Santri Belajar Memakai AI dengan Kritis, Jujur, dan Beradab

Demak – Program Studi Informatika Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap literasi digital melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM). Pada Rabu (4/11/2026), tim PKM UPGRIS memberikan pelatihan Generative AI kepada santriwan dan santriwati Pondok Pesantren Tahfidz Quran (PPTQ) Riyadush Sholihin di Jalan Kebon Adi 12, No. 20, Pucang Gading, Mranggen, Kabupaten Demak.

Pelatihan ini mengusung tema “Penguatan AI Literacy dan Computational Thinking berbasis Literasi Bahasa Melalui Pelatihan Generative AI”. Tujuannya agar santri tidak hanya bisa menggunakan kecerdasan buatan, tetapi juga memahami cara kerjanya serta memakainya secara kritis, jujur, dan bertanggung jawab.

Tim Pelaksana

Kegiatan yang dikoordinasikan melalui LPPM UPGRIS ini diketuai oleh Nur Latifah Dwi Mutiara Sari, S.Kom., M.Kom. Anggota tim terdiri dari Ramadhan Renaldy, S.Kom., M.Kom; Bambang Agus Herlambang, S.Kom., M.Kom; dan Arisul Ulumuddin, S.Pd., M.Pd.

Pimpinan pondok, Ustaz Danang, menyambut baik kehadiran tim PKM UPGRIS dan berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut demi menunjang kecerdasan para santri.

Mengapa Pelatihan Ini Penting

Pemakaian AI seperti ChatGPT dan Gemini di kalangan pelajar terus meningkat. Kemudahan tersebut perlu diimbangi kemampuan berpikir kritis. Tanpa itu, pengguna berisiko menyalin begitu saja jawaban AI yang keliru atau berisi informasi karangan (halusinasi AI). Karena itu, pelatihan ini menekankan cara berpikir, bertanya, dan menilai hasil AI, bukan sekadar cara mengoperasikannya.

Empat Sesi Pelatihan

1. Mengenal Artificial Intelligence. Nur Latifah Dwi Mutiara Sari memperkenalkan konsep dasar AI dan AI generatif. Santri diajak mengenali AI dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari rekomendasi video, penerjemah otomatis, pembuka kunci wajah, asisten suara, hingga chatbot belajar. Sesi ini juga membahas manfaat dan keterbatasan AI (bisa salah, bias, dan informasinya belum tentu terbaru), empat langkah memverifikasi jawaban, serta etika penggunaan. Santri diingatkan untuk bertabayyun sebelum mempercayai jawaban AI, dan bahwa AI tidak menggantikan guru maupun kitab.

2. Berpikir Logis dan Sistematis sebelum Meminta Bantuan AI. Ramadhan Renaldy mengajak santri memahami masalah, mencatat informasi yang diketahui, menentukan yang dicari, menyusun langkah, dan memeriksa hasil sebelum bertanya kepada AI. Lewat studi kasus soal luas persegi panjang dan soal sisa uang, peserta belajar menemukan kesalahan AI. Pada sesi “Jadilah Detektif AI”, mereka menguji jawaban AI tentang jumlah ayat Surah Al-Baqarah dan urutan surah terakhir dalam Al-Qur’an.

3. Teknik Menyusun Prompt yang Jelas dan Efektif. Bambang Agus Herlambang memperkenalkan lima ciri prompt yang baik dan formula Peran + Konteks + Tugas + Format + Batasan. Santri berlatih mengubah prompt singkat seperti “Buat soal” menjadi instruksi lengkap untuk mata pelajaran IPA, Bahasa Arab, dan Matematika. Mereka juga belajar prompt bertingkat serta meminta AI berperan sebagai tutor yang sabar dan memberi petunjuk, bukan langsung jawaban.

4. Literasi Membaca dan Menulis serta Evaluasi Output AI. Arisul Ulumuddin mengajarkan lima langkah membaca kritis (baca, pahami, identifikasi, analisis, evaluasi) serta cara menemukan gagasan utama dan merangkum. Peserta juga mengenal lima lensa penilaian output AI: akurasi, relevansi, kelengkapan, kejelasan, dan keruntutan. Dalam praktik “AI Content Reviewer”, santri menandai klaim berlebihan dan pengulangan pada teks buatan AI, lalu memperbaikinya dengan bahasa sendiri.

Berlandaskan Nilai Pesantren

Seluruh materi dikaitkan dengan nilai-nilai pesantren: jujur, beradab, tabayyun, dan bertanggung jawab. Santri diingatkan untuk tidak mengklaim tulisan AI sebagai karya sendiri, tidak memasukkan data pribadi atau rahasia ke AI, mematuhi aturan guru dan ustazah, serta menjadikan AI sebagai alat belajar, bukan pengganti belajar. Pesan utama yang ditekankan: “Jangan biarkan AI berpikir untukmu, gunakan AI untuk membantumu berpikir lebih baik.”

Kegiatan berlangsung interaktif melalui tanya jawab, diskusi, studi kasus, dan praktik langsung sehingga mudah diikuti para santri.

Melalui pelatihan ini, tim PKM UPGRIS berharap santriwan dan santriwati PPTQ Riyadush Sholihin menjadi pengguna AI yang cerdas dan bijak, terbiasa membaca kritis, menulis kreatif, dan memeriksa informasi sebelum memakainya. Kegiatan ini sekaligus mempererat kerja sama antara UPGRIS dan pesantren dalam meningkatkan literasi digital.

Tags: demak pkm AI LPPM upgris

Saran Baca Lanjut

Menjawab Tantangan Masa Depan: Bagaimana Informatika UPGRIS Mempersiapkan Generasi Tech-Savvy

17 May 2026

Mahasiswa Informatika UPGRIS Laksanakan KKL di Bali

15 Sep 2025